Friday, October 08, 2010

Surga Bunga Kaki Pecah




dari kakinya ada bunga

bunga

bunga dari surga

surga itu kaki bunga

tapi kurasa ini bukan kaki

tapi langkah

tangan

dan gairah

lalu surga bunga pecah

Friday, July 09, 2010

Suara Hujan yang Nyangkut di Antara Telepon Kita

1

Hujan mulai masuk ke dalam telpon dan membasahi bibir kita

Di ujung sana, angin riang berjalan-jalan, berkeciprakan; bermain hujan

Sambil tertawa kecil dan mencubit pipi yang baru sembuh dari sakit gigi

Ada yang tertinggal bersama getar dan hisapan rokokku

Yang tak padam ketika suara-suara ingin saling menjumpa

Dan aku menggeserkan diam ke dalam malam

Malam yang gelap, ada sesuatu yang palsu

Terang buatan itu membalut kita

Tapi disini padam listrik, sayang

Aku terkadang meraba diri sendiri yang tak nampak

Lalu kulantunkan apa yang pernah terpikirkan untuk seringkali

Merangkai jemari kaki hingga ke ujung rambutmu

Sambil menyingkap kerudungmu ke langit

Di sana angin itu mengibarkannya bersamaku

Yang makin berkobar dalam telpon

2

Kita hanya membicarakan puisi dan malu-malu berangkat dari telpon

Tidak seperti jeritan kata-kata bersama hujan yang tepuk tangan

Nanti kita bertemu di sebuah pertunjukan

Saling meraba kenangan yang mempertemukan

Alangkah debarnya

3

Tanpa diduga, kita telah menghimpun banyak rencana

Seperti sebuah novel, katamu

Lalu kurebuskan jagung dan singkong untukmu

Pada sebuah sarapan yang menggelikan

(sebab kau tergesa untuk mengangkat mereka

sebelum benar-benar matang dan empuk

lalu kesal dan sebal; “ingin kulempar sama piringnya, ke kamu!”)

Ada sebuah resep masakan yang seadanya

Telah kugunting dan kliping

Kapan-kapan kita coba lagi

4

Pesan pendek ini mulai nyangkut di dinding waktu

Aku sering menyalahkan hujan

Juga penyedia layanan yang keterlaluan

Sebuah percakan dari kejauhan

Sinyal yang timbul tenggelam

Seringkali mengacaukan suaramu

“Ih, konsentrasi dong. Pasang kupingmu

di tempatnya ya! Jangan biarkan berlarian,

atau mampir di keramaian.”

Maaf, hujan makin menjengkelkan

Aku disiram sinyal yang timbul tenggelam

Dan suara yang hendak disampaikan jadi tak karuan

Bisakah kau ulangi lagi apa yang tadi kita bicarakan

Please

5

Kenapa kau jarang sekali menulis di dindingku

Atau mencakar-cakar dengan sebuah komentar

“Sebab aku ingin makin masuk ke dalam dirimu”

6

Perempuanku

Sepertinya hujan makin nyangkut diantara telpon kita

Monday, June 09, 2008

ia seperti 2500, memendam jarak antara lebak bulus – cipete

ia menodongku dengan 10000 angkot yang ada dimulutnya

matanya bensin, tangannya kompan, dan baju-baju lari dari tubuhnya

seperti merobek kompan, angkot dan sepatu.

ia kaki yang berjalan dengan ban, dan cakramnya siap ditekan

stop. ia blong, ia bensin yang berhamburan. ia memakan debu kota

dan menyiapkan dialog, argumen, eksepsi, dan angkot dalam mulutnya

ia muntah dan kisahnya seperti muntah juga

Wednesday, May 21, 2008

jam lemari kaki
download
aku ingin jalan tangan
posting
kau mulut mata
lay out

Monday, August 20, 2007

Pedagang Ember Keliling

ditepi jalan ia memukul-mukul ember
“ini ember anti pecah” ditempa
ia seperti mengantarkan pesan melalui bunyi
yang merambat “buk-buk-buk” dari ember
adakah resonansi yang muncul dari bunyinya
ah,labirin itu dimatanya

Thursday, March 01, 2007

RIWAYAT PENULIS TEMBOK 2

ia menyiapkan cat untuk menggambar di tembok irigasi
metro dalam nafas agraris telah menyatu dalam tangannya
ia memegang kuas seperti memeluk cangkul
tembok irigasi yang pucat ingin berlari

KAPAL JUGA TERBAKAR DI KAMAR

gitar satu senar di bangkai kamar
sisa terbakar dari pemanas air yang meleleh
kapal juga terbakar di kamar
bersama kenangan yang terus berputar

membakar kata berteriak gitar
berteriak bakar kata gitar

di kamar kapal
terbakar

Thursday, February 22, 2007

MEREDAKAN TUBUH DARI INGATAN

Dua belas jam aku menyetubuhi komputer tanpa kata sedikitpun. Kutandaskan kenangan untuk menziarahi lekuk-lekuknya. Alur misteri yang bercecabang untuk diikuti. Begitu misteri untuk digairahi. Seperti genangan sungai yang panjang. Juga keindahan pantai yang mengalun dari kejauhan. Desahan bumi yang menggetar pelan mengusik dengan enggan. Desahan mesin yang meronta untuk disudahi. Juga desahan kata yang menjejal untuk berloncatan. Satu persatu mengalun, hinggap di tiang-tiang, di sudut mata, di pangkal tubuhmu. Dua belas jam aku menyelami kata dan lagi. Mengeram bersama dengan penuh kesadaran. Dengan penuh ucap yang bergantian seksama. Desakan dari tanganku meronta pada lantai yang menggemuruh. Juga pada genangan hujan yang semakin meninggi. Aku seperti berenang bersama pohon, binatang. Akar-akar yang panjang terkelupas dan terhanyut dihempasnya. Dua belas jam aku meredakan tubuhku dari ingatan.

Bandar Lampung. 2007

DIA TETAP INGIN TIDUR

Jam malam disebuah lab yang berserakan botol-botol. Buku puisi sengaja diselipkan. Sisa teh celup tersangkut di kantung mata. Speaker sedang tidak nyala, keheningan ini jangan sampai terganggu. Dia ingin tidur seperti beruang satu musim. Tapi itu bukan perumpamaan yang cocok kuutarakan, bukankah disini udara begitu hangat. Aih, air perlahan meluap. Juga hujan datang dengan menghapus panas yang panjang. Dia tetap ingin tidur.

Bandar Lampung. 2007

PADA SIAPAPUN

Pada pantai aku titipkan sisa ban yang menemani kemarin. Pada pasir-pasir kuhempas sisa laut yang mulai mengering di sekujur. Pada matahari kutatap perlahan sebelum ditelan.

Pada tatapan John Lennon yang bersemayam di blogmu. Seperti penolakan pada wajib militer. Aku teringat pada lagu Imagine. Terus kutatap seperti pada hujan yang kuhempaskan bersama keengganan menyudahi. Kalau saja berlarian dalam tarian hujan itu.

Kopi gula, tapi entah kenapa ada pisau bersemayam disitu. Ujungnya yang lancip seperti tertawa. Pada bis kota di sela jedanya menawarkan pisau diarahkan pada mukaku, muka penumpang disampingku, semua penumpang. Harga sembako naik lagi katanya. Seperti berlari dengan motor 2 tak. Di kota besar sudah tidak diperbolehkan jalan, seperti juga merokok yang bersembunyi diranah privasi.

INGIN SAJA

Aku tidak pesan keributan. Apalagi kejatuhan pesawat, kapal atau angkutan lainnya. Aku ingin menulis, seperti mencintaimu.

BERHENTI DI PAGI

Katanya pagi itu akan ke pasar

Kutitip kenangan

Ikan berenang di bak yang telah disediakan

Sekarang sedang panen hujan

Dalam lingkaran donat. Kita mengeja sebuah kecemasan baru. Kecemasan yang sekarat. Dibalut dengan dekat dan berharap. Seperti kisah petualang ke pulau tak berpenghuni.

Teh loncat dari punggungku. Kemudian berlari dan bersembunyi dalam botol-botol. Di dalamnya bergambar sepasang calon kepala daerah.

Hujan berlarian pelan. Di halaman yang berjatuhan spanduk.

Kami terus berteriak di sudut jam yang sudah muntah. Hujan masih saja membentak jalan yang sedang kami perbaiki.

Seperti hujan dan kapal yang sedah pecah. Dengan sayap yang setengah patah terjatuh di landasan.

Dikepalaku sedang tumbuh burger, donat dan cocacola. Aku lari dan ....

Berhentikah di pagi