Friday, July 09, 2010

Suara Hujan yang Nyangkut di Antara Telepon Kita

1

Hujan mulai masuk ke dalam telpon dan membasahi bibir kita

Di ujung sana, angin riang berjalan-jalan, berkeciprakan; bermain hujan

Sambil tertawa kecil dan mencubit pipi yang baru sembuh dari sakit gigi

Ada yang tertinggal bersama getar dan hisapan rokokku

Yang tak padam ketika suara-suara ingin saling menjumpa

Dan aku menggeserkan diam ke dalam malam

Malam yang gelap, ada sesuatu yang palsu

Terang buatan itu membalut kita

Tapi disini padam listrik, sayang

Aku terkadang meraba diri sendiri yang tak nampak

Lalu kulantunkan apa yang pernah terpikirkan untuk seringkali

Merangkai jemari kaki hingga ke ujung rambutmu

Sambil menyingkap kerudungmu ke langit

Di sana angin itu mengibarkannya bersamaku

Yang makin berkobar dalam telpon

2

Kita hanya membicarakan puisi dan malu-malu berangkat dari telpon

Tidak seperti jeritan kata-kata bersama hujan yang tepuk tangan

Nanti kita bertemu di sebuah pertunjukan

Saling meraba kenangan yang mempertemukan

Alangkah debarnya

3

Tanpa diduga, kita telah menghimpun banyak rencana

Seperti sebuah novel, katamu

Lalu kurebuskan jagung dan singkong untukmu

Pada sebuah sarapan yang menggelikan

(sebab kau tergesa untuk mengangkat mereka

sebelum benar-benar matang dan empuk

lalu kesal dan sebal; “ingin kulempar sama piringnya, ke kamu!”)

Ada sebuah resep masakan yang seadanya

Telah kugunting dan kliping

Kapan-kapan kita coba lagi

4

Pesan pendek ini mulai nyangkut di dinding waktu

Aku sering menyalahkan hujan

Juga penyedia layanan yang keterlaluan

Sebuah percakan dari kejauhan

Sinyal yang timbul tenggelam

Seringkali mengacaukan suaramu

“Ih, konsentrasi dong. Pasang kupingmu

di tempatnya ya! Jangan biarkan berlarian,

atau mampir di keramaian.”

Maaf, hujan makin menjengkelkan

Aku disiram sinyal yang timbul tenggelam

Dan suara yang hendak disampaikan jadi tak karuan

Bisakah kau ulangi lagi apa yang tadi kita bicarakan

Please

5

Kenapa kau jarang sekali menulis di dindingku

Atau mencakar-cakar dengan sebuah komentar

“Sebab aku ingin makin masuk ke dalam dirimu”

6

Perempuanku

Sepertinya hujan makin nyangkut diantara telpon kita

No comments: