Monday, February 12, 2007

BANJIR BERKEJARAN DI RUMAH

O kau mulai mengunci rak di dalam hati kemarin pagi bersama tebing
Runcing kaki hujan menanam poster di dalam kulkas
Batu mencair di dalam bibir O
Kau pagi-pagi mencuri dengar dari televisi yang telah bapak sembunyikan di lemari
Berlari-lari dikejar mesin cuci
Segera tuntaskan pakaian kotormu dengan perut yang lunas
O kau yang mulai menanam pohon listrik di depan
O kau yang mulai menanam ledeng di bawah rumah
Banjir berkejaran di rumah
Melumat

Bandar Lampung. 2007

PINTU MULUTKU DIDOBRAK

Pintu rumahku diketuk
Katanya dari televisi
Dan mengunci pintu dengan rapat
Kukira penagih hutang dengan membawa deterjen di matanya
Telah berbusa dan berteriak dengan penat
Disuruhnya aku melumat televisi itu
Dengan bangkai anjing yang telah disediakan dari tangannya
Pintu mulutku didobrak
Telah kutelan televisi dengan paksa
Hadiah darimu sambil begoyang

Bandar Lampung. 2007

SINYAL GELOMBANG TIDAK MENYAMPAIKAN PESANNYA

Mengukir batu dalam kepalan ikan
Berenang bersama antena yang telah salah pesan
Sinyal gelombang tidak menyampaikan pesannya
Tersangkut
Dan minum teh bersamaku di luar hujan
Angin ribut bertalu
Bersama bosan menyalakan lampu
Angin kabur begitu saja
Membawa pesanmu yang lama tersangkut
Antena muram


Bandar Lampung. 2007

SEPERTI HUJAN YANG ENGGAN BERHENTI DI DALAM TELEVISI

Seperti radio yang jatuh dan batere berhamburan di selangkangan
Ditelan bah kejenuhan pada gelombang yang memucat erat
Suaranya berpadu dengan air seperti silikon yang berlembah
Dikendalikan dari jauh dengan kotak yang malu-malu
Karena buah-buahan ditutup dengan kelambu
Ingin tidur di pelukan badai
Seperti hujan yang enggan berhenti di dalam televisi


Bandar Lampung. 2007

TANPA TELANJANG

Tanpa telanjang dalam kamus berpita merah
Beku kata mengusap monitor yang berteriak
Hujan pergi naik delman dengan tenang
Tanpa telanjang menelusuri kotak ensiklopedi
Banjir menghantam dari kepala yang botak
Tanpa telanjang bajuku berserakan

Bandar Lampung. 2007

WAKTU TIDAK JUGA IKUT LUPA MENARUH DIRINYA

Makalah menyusun dirinya sendiri pada kertas yang berserakan di meja
Tentang skripsi yang tak jadi-jadi
Kapan selesai oleh para kurcaci yang menyelinap masuk
Di kaki-kaki mungilnya yang mengendap tertatih
Makalah yang telah tersusun itu hanyut bersama televisi
Di acaranya yang terus saja muntah tak berkesudahan
Aku ingin memeluk kurcaci itu sekaligus televisi
Seperti jam yang lupa ditaruh dimana
Waktu tidak juga ikut lupa menaruh dirinya
Makalah terus saja menguras kepalaku


Bandar Lampung. 2007

HUJAN MENGENCINGI BAJUKU

Hujan mengencingi bajuku
Kemarin aspal melumuri mulutku
Pohon menabrak mobil yang melaju kencang
Dia sendirian menutup matanya dengan tangan
Angin berkejaran tanpa memakai baju hangat
Air di panci mulai sekarat
Hujan mengencingi lagi
Aku marah pada batu
Seragam dilepaskan pada sungai
Aku umpat lemari dan televisi
Sikring menari-nari di kepalaku
Bersama hujan yang terus kencing


Bandar Lampung. 2007

FOTO TELANJANG MULAI MERASUK

Jam berapa sinetron kesayangan
Mengeram di televisi yang setengah mabuk
O aku lupa tayangan kemarin
Di lemari yang tersembunyi
Kabarkan kerinduan pada episode selanjutnya
Selingan iklan mencabiki kegemasan yang berkarat
Seperti karat pada tiang listrik di samping got
Yang telah digambari dengan kata warna-warni
Seperti hari ini yang mewarnai sinetron
Teka-teki seakan hadir dan bergentayangan
Foto telanjang mulai merasuk


Bandar Lampung. 2007

NENEK TERSENYUM DENGAN MUKA PUTIH

Dikepalanya masih menyisa coklat yang butirannya tertinggal di televisi
Kupukul dengan linggis yang padat dengan runcing di setiap ujungnya
Meneriakkan keluhan palsu dengan muka yang setengah basah
Hujan lupa pada jemuran sedang malam tertawa dibawah bantal
Iseng mengompoli baju nenek yang semakin keriput di bawah kelambu rahasianya
Anggrek kuping gajah beberapa mulai besembunyi di sudut rumah
Enggan untuk disayati oleh gunting yang menjelma tanganku
Luka pun menggeliati pada sayatan lama di tubuh
Nenek tersenyum dengan muka putih
Hujan di sana


Bandar Lampung. 2007

RUMPUT MULAI MENGUBUR DIRIKU

Kepala di televisi jatuh bersama raup tanah di mata telinga dan kaki
Lalu pasar sebrang jalan menarik wortel, jamur, kentang bersama hujan
Beras menumbuk di dalam mata yang selalu basah
Seperti juga aspal mulai meleleh di sepotong kue
Aku lupa menaruh bawang, wafer, dan obat sakit gigi
Terjatuh ke dalam keyboard
Tekan tekan jurang
Bersemayam bersama meja belajar
Yang menyekap bertahun
Mengendap bersama lampu plastik
Membakar sebentar pematik sembunyi dalam jari
Kurasa bunga-bunga mencekam
Dan mulai mencekram mulutku dengan sisa desahan
Rumput mulai mengubur diriku


Bandar Lampung. 2007

Monday, September 04, 2006

Wartawan “Lompat Pagar”

Wahyu Heriyadi
Aktivis Bengkel Jurnalisme


Wartawan Merupakan Profesi yang menjadi salah satu pilar dalam demokrasi. Keberadaan wartawan menjadi disegani dalam kancah politik seni maupun budaya. Keberadaan dan kondisi masyarakat terkini dilaporkan dan disebarkan oleh media yang menjadi naungannya. Tentunya hasil reportase tersebut dibaca dan diapresiasi oleh khalayak.

Tugas dan beban berat tersebut diembannya, kode etik, aturan dan standar jurnalistik menjadi pedoman dalam kinerjanya. Sebuah perpaduan beban yang berat, ditambah lagi dengan kedekatan terhadap narasumber membuat kemudahan untuk menghasilkan suatu liputan. Pergaulan yang luas dengan berbagai kalangan ini membuat kedekatan-kedekatan dengan pihak yang berprofesi lain yang lebih mapan. Seperti misalnya politisi atau pengusaha.

Maka ketika seorang wartawan memiliki profesi ganda, yaitu wartawan sekaligus politisi atau wartawan sekaligus pengusaha, maka kredibilitas dan kinerjanya akan dipertanyakan. Kita bisa melihat apabila wartawan itu sekaligus salah satu calon penting di sebuah partai politik, maka media yang diikuti kemungkinan besar dijadikan alat untuk menunggangi kepentingan politik yang dikehendakinya.

Begitu pula dengan wartawan yang sekaligus pengusaha lain di bidang jurnalistik, bisa jadi fokus profesinya akan terpencar dan kinerjanya bercabang-cabang. Hingga output dari reportase dicampur aduk dengan kepentingan usahanya. Atau profesi lain-lainnya. Juga ketika profesi wartawan itu ditinggalkan demi sebuah karier yang lebih baik atau materi yang lebih mapan.

Seperti kita ketahui banyak praktisi wartawan yang dengan santainya mencapakkan baju kewartawanannya untuk menjadi PNS, Politisi, atau profesi lainnya. Apakah karena profesi wartawan di Indonesia, khususnya di Lampung tidak menjanjikan masa depan yang baik sehingga hanya dijadikan batu loncatan untuk menuju profesi yang “dianggap lebih baik dan mapan” dan akhirnya lompat pagar.

(TOR diskusi Bengkel Jurnalisme)

Thursday, July 20, 2006

Rencana INDS

Kami akan membuat sebuah lembaga kajian dan penelitian. rencananya bernama Institut for National Democratic Studies (INDS). Beberapa program yang menarik, seperti kajian demokrasi, ekonomi politik, dsb. rencana akan mengadakan focus group discution (fgd) sebulan sekali dan menerbitkan jurnal setiap 6 bulan sekali. saya kira untuk bandar lamoung, lembaga penelitian diluar kampus masih jarang.

Tuesday, March 21, 2006

Tanpa Otak

Tanpa Otak

Otak dalam tubuhnya keluar
dan tidak dapat digunakan lagi untuk berpikir dengan jelas,
menghitung angka-angka pasti,
apalagi mengeluarkan kata bijak seperti filsuf besar.

Dengan tanpa otak di kepalanya !

Sebelum pergi meninggalkan semuanya yang ada
dia tak berkir terlebih dahulu,
karena otaknya telah dicungkil
dan dibuangnya jauh.

Kota yang menganggapnya mencungkil otak
dan meninggalkan jauh-jauh di sebuah keramain
tak seorang pun tahu. Ketika tak ada seorang pun, esoknya diributkan oleh tergeletaknya otak yang ditinggalkan.

Semua orang berpikir, tak dapat berpikir lagi dengan benar.

dipublikasikan di milis apresiasi-sastra

menghilang di gerbang cahaya

menghilang di gerbang cahaya

Dia menyertakan dirinya sebagai tanda pengabdian dan penyerahan secara sadar. Dia, adalah seorang yang selalu diharapkan orang orang, telah larut dalam gegap gempita isi dunia yang tidak bersahabat. Menyudahi kesehariaan yang memanjang, dan, lambat terdengar sederet bunyi kepasrahan. Pasrah akan penyerahan diri, pada saat yang telah ditentukan.

Saat itu, ketika malam tak pernah berujung, kunjung tiba di ufuk penglihatan. Terlihat penampakan seorang yang datang dari kegelapan tak bercahaya, mendekat dengan langkah yang tak teratur, lambat laun, agak cepat, berjalan serong kiri serong kanan seperti seorang yang telah kehilangan keseimbangan. Namun, tidak, bukan itu. Raganya berjalan, namun jiwanyta melayang layang mengikuti arah kegelapan malam.

Menuju ke arah tak pasti, dimana setiap cahaya yang dicari tak pernah kunjung, karena memang, malam tak pernah berakhir. Selalu saja kegelapan itu meraba. Pada siapa saja, bahkan yang telah mengenalnya lama, tetap saja tak ada pengingkaran, selalu saja. Malam tak pernah berakhir.

Dan ketika menuju lorong lorong yang semakin pekat, tak ada yang mengikuti karena malam telah membutakan pandangan.

Hendak kemana kau wahai perindu yang selalu berjalan?

Aku hendak mencari setitik cahaya untuk melepaskan dahaga pengetahuan yang tak tersudahi akibat ketidak tahuan akan acahaya itu.

Bukankah selalu saja tak seorang yang menginginkan cahaya, karena berbahaya bagi siapapun. Tak ada yang beranjak dari kursi cahaya itu, selain mereka yang muncul dan akhirnya menghilang di cahaya yang terang, dan tak seorangpun menjumpainya lagi. Sadarlah, lebih baik kau urungkan niatmu, tak ada apa apa dalam pencarian cahaya, karena hanya akan menemui hal yang tak berkesudahan, nikmatilah malam ini, nikmatilah kegelapan ini, untukmu, untuk kita semua.

Tidak, aku akan menuju cahaya itu, dan menyeretnya kemari agar semua menikmati cahaya itui, aku, kau, juga semuanya. Akan menikmati cahaya yang kubawakan. Pasti.

Jangan, akan terjadi sebuah perubahan sosial, dimana tak pernah ada yang menikmati cahaya, dan ketika kau bawakan cahaya itu, tapi sepertinya tidak mungkin, namun meski kau bawa cahaya itu kemari dan menerangi semuanya. Akan terjadi sesuatu, entahlah, namun yang pasti akan terjadi sesuatu, camkanlah itu.

Dan ketika malam jaddah itu ingin diakhirinya dengan memaksa masuk kearah cahaya yang lambat laun semakin dekat, disongsongnya dengan berlari. Tak memperdulikan lagi, dimana terus disongsongnya setitik cahaya itu yang semakin didekati semakin besar. Ada bebarapa kendala ketika berjalan menuju cahaya itu, beberapa kali tersandung, namun tak diperdulikannya semua itu, demi menuju sebuah cahaya.

Dan dia menghilang di gerbang cahaya yang orang orang disini tak pernah berani untuk pergi kesana.

dipulikasikan di milis bumi manusia